Bahasa Jepang

Konsep Agama dan Tuhan menurut orang Jepang

 

image

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan berbicara secara langsung dengan orang Jepang. Dan untuk pertama kali nya saya berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan Tuhan dan agama.

Seperti yang kita ketahui ,agama yang identik dengan Jepang adalah Shinto. Shinto sebenarnya adalah kepercayaan animisme yang sudah ada sejak lama di Jepang. Shinto mulai ditetapkan sebagai agama resmi di Jepang mulai jaman Meiji.
Konsep kepercayaan dalam shinto merupakan konsep kepercayaan yang berasal dari mitologi Jepang kuno yang meyakini ada nya Dewa yang memberikan ketentraman pada manusia. Kepercayaan shinto dapat disebut juga kepercayaan Politheisme, yang mengakui ada nya banyak Dewa di alam ini. Mereka percaya akan adanya dewa bumi,dewa langit dan dewa yang tertinggi adalah Dewi Matahari (Ameterasu Omikami)
Ajaran dari shinto lebih mendekati ajaran menghormati, menjaga keseimbangan alam dengan manusia sebagai pelaku shinto.
Shinto dalam bahasa Jepang : 神道, shin : roh , to : jalan.
Orang yang memiliki kepercayaan shinto merupakan orang yang menjalani hidup nya dengan sebaik-baik nya menuju “roh” yang merupakan wujud emanasi dari perwujudan Tuhan ( Kamisama ). Maka, dalam shinto tidak terlalu mementingkan ibadah yang seperti kita kenal di kepercayaan lain. Mereka hanya melakukan matsuri ( menyembah, memuja ). Ritual ini dilakukan pada waktu tertentu serta tujuan yang berbeda-beda pula. Inti dari matsuri adalah pemujaan, persembahan rasa syukur dan doa. Selain matsuri orang Jepang juga mengenal ritual pergi ke kuil untuk berdoa. Namun konsep doa di sini sedikit berbeda.
Orang Jepang berdoa, memohon keselamatan, kemakmuran dan kesehatan kepada kamisama, namun di samping itu, mereka juga berusaha dengan sangat giat dalam memperoleh yang mereka cita-citakan tersebut. Dan jika mereka mengalami hambatan atau kegagalan , mereka tidak memandang itu sebagai sebuah takdir dari Tuhan, melainkan sebuah ketidak maksimalan mereka dalam melakukan usaha. Maka,peran Tuhan di sini hanya sebagai simbol keinginan mereka untuk dapat mewujudkan kebaikan di dunia dengan berusaha semaksimal mungkin.
Mungkin bagi kita,hal ini terlihat sangat naif dan durhaka. Namun jika kita bercermin pada kebiasaan kita dalam berdoa, seolah-olah kita berdoa secara mutlak meminta sesuatu kepada Tuhan. Kita terkadang menghilangkan esensi “usaha” sebelum berdoa. Padahal jika kita lihat lebih komperhensif, filosofi doa adalah berusaha dengan maksimal kemudian memohon kelancaran serta keberhasilan akan usaha yang sedang dilakukan, tak lupa berserah diri pada Tuhan.
Seperti salah satu firman Allah dalam Al Qur’an
An-Najm: 39:
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,

Maka ketika saya tanyakan pada teman saya itu :
Mengapa Indonesia yang mayoritas beragama, dan negara dengan penduduk muslim terbanyak ke dua di dunia, tidak dapat menyaingi kemegahan dan kesuksesan Jepang?
Teman saya pun menjawab :
Sonna koto wa kanke ga nai.
“Hal itu tidak ada korelasi nya”
Bahwa fakta nya Indonesia adalah negara yang kata nya berketuhanan yang maha esa, namun nyata nya, Indonesia masih harus banyak belajar dari orang yang mempercayai banyak Tuhan dan tidak menjadikan landasan spiritual sebagai landasan utama dalam memajukan bangsanya.

image
Advertisements